Belajar
bukan merupakan kegiatan yang hanya dilakukan selama menjalani studi dalam
lembaga pendidikan, seperti SD, SMP, SMA, maupun perguruan tinggi. Namun
sebenarnya, belajar itu adalah kegiatan yang mendorong manusia untuk dapat
mengaplikasikan suatu kegiatan berdasarkan atas hasil pengalamannya yang telah
didapatkan sebelumnya. Ketika seseorang sedang menjalani studi dalam lembaga
pendidikan, seperti di perguruan tinggi, maka seseorang tersebut akan
dihadapkan dengan berbagai macam pembelajaran dengan pengajar yang berbeda dan
mata pelajaran yang berbeda-beda pula. Selain itu, pada saat tertentu semasa
menjalani studi, seseorang tersebut akan mengahadapi ujian untuk mengetahui
sejauh mana pemahamannya akan pelajaran yang telah didapatkan. Ujian tersebut
dapat berupa kuis ataupun UTS (Ujian Tengah Semester) dan UAS (Ujian Akhir
Semester).
Selama
masa studi di perguruan tinggi, tiap mahasiswa akan mendapatkan perlakuan yang
sama seperti orang dewasa. Mahasiswa diharapkan untuk dapat belajar mandiri.
Namun dalam kenyataannya, masih banyak mahasiswa yang belum dapat menerapkan
belajar mandiri dengan baik. Banyak dari mahasiswa yang merasa gagal dalam
menentukan cara belajar mereka. Kelonggaran pola belajar selama waktu perkuliahan
membuat mereka memiliki kecenderungan untuk menerapkan perilaku negatif seperti
cara belajar SKS (Sistem Kebut Semalam).
Kebanyakan
dari mahasiswa melakukan belajar sks karena mereka merasa bahwa jadwal
perkuliahan yang didapat membuat mereka lelah, adanya kegiatan di luar
perkuliahan seperti organisasi dan sebagainya, pengerjaan berbagai tugas
individu maupun kelompok, juga penerapan belajar yang santai walaupun materi
yang harus dipelajari banyak. Kebanyakan dari mahasiswa masih disibukkan untuk
mencari catatan sehari sebelum ujian dilaksanakan. Mahasiswa tidak menyadari
bahwa belajar sks merupakan bagian dari prokrastinasi yang mendorong mereka
untuk menunda waktu pengerjaan suatu aktivitas walaupun mereka sebenarnya sudah
memiliki batas waktu akhir pengerjaan.
SKS
(Sistem Kebut Semalam) adalah sebuah sistem perilaku yang dilakukan oleh siswa
ataupun mahasiswa untuk belajar dalam waktu singkat atau semalam suntuk untuk
menghadapi tes atau ujian esok harinya. Sistem ini sepertinya sudah melekat dan
mendarah daging di kalangan pelajar dan mahasiswa. Mereka yang melakukan SKS akan memaksakan diri untuk
mempelajari semua bab yang akan diujikan esok hari ke dalam otak. Tidak sedikit
mahasiswa menggunakan jam tidurnya hanya karena mereka belum belajar untuk ujian
esok hari. Bagi mahasiswa yang aktif dalam berbagai organisasi, tentunya sistem
ini sangat efektif untuknya dalam menghadapi ujian karena mereka sendiri tidak
punya waktu untuk belajar dan sibuk dengan kegiatan-kegiatan yang
diselenggarakan oleh organisasi. Bagi kebanyakan mahasiswa, belajar dengan cara
mencicil tidak akan berhasil dalam menyelesaikan ujian sehingga mereka lebih
memilih untuk menerapkan SKS.
Teori
belajar kognitif oleh Piaget menjelaskan, dalam mempelajari bentuk belajar yang
lebih kompleks, perhatian mestinya dihubungkan pada peran proses kognitif,
yaitu bagaimana siswa menghayati, mengorganisasi, dan mengulangi informasi
dalam usaha menguasai topik tertentu. Dikemukakan pula, bahwa belajar akan
lebih berhasil apabila disesuaikan dengan tahap perkembangan kognitif peserta
didik. Metode yang digunakan untuk membuat pembelajaran lebih relevan dalam teori
belajar kognitif salah satunya adalah Advance
Organizer Advance Organizer, yaitu salah satu cara untuk membantu mahasiswa
untuk mengingat kembali informasi-informasi yang berkaitan yang dapat digunakan
untuk membantu dalam menyatukan informasi-informasi baru yang akan dipelajari
(Ausuble, 1960).
Teori belajar meaningful
learning milik Ausubel, yaitu suatu proses belajar di mana informasi baru
dihubungkan dengan struktur pengertian yang sudah dipunyai seseorang yang sedang
belajar. Ausubel menaruh perhatian besar pada siswa dengan memperhatikan atau memberikan
tekanan-tekanan pada unsur kebermaknaan dalam belajar (meaningful learning). Kebermaknaan diartikan sebagai kombinasi dan
informasi verbal, konsep, kaidah dan prinsip, bila ditinjau bersama-sama. Oleh
karena itu, belajar dengan sistem hafalan saja seperti SKS (Sistem Kebut
Semalam) tidak dianggap sebagai belajar bermakna. Maka menurut Ausubel supaya
proses belajar siswa menghasilkan sesuatu yang bermakna, tidak harus siswa
sendiri yang menemukan semuanya. Pemerolehan informasi merupakan tujuan
pembelajaran yang penting dan dalam hal-hal tertentu dapat mengarahkan dosen
untuk menyampaikan informasi kepada mahasiswa. Belajar dikatakan bermakna
apabila informasi yang akan dipelajari siswa disusun sesuai dengan struktur
kognitif yang dimiliki oleh siswa sehingga mereka mampu mengaitkan informasi
barunya dengan struktur kognitif yang dimiliki sebelumnya. Faktor utama yang
mempengaruhi belajar bermakna menurut Ausubel adalah strukur kognitif yang ada,
stabilitas, dan kejelasan pengetahuan dalam suatu bidang studi tertentu dan
pada waktu tertentu.
Dalam
analisisnya, David Ausubel (1968, 1977) membuat dua perbedaan dasar satu antara
penerimaan dan pembelajaran penemuan dan yang lainnya antara hafalan dan
pembelajaran bermakna (meaningful
learning). Ia menyarankan perbedaan pertama adalah signifikan karena
sebagian besar siswa belajar, baik di dalam maupun di luar sekolah, disajikan
kepada mereka yaitu penerimaan pembelajaran. Penerimaan pembelajaran bisa
sangat bermakna bagi siswa selama itu tidak didasarkan pada hafalan, atau
menghafal materi tanpa upaya untuk memahami artinya.
Lebih lanjut, Carroll (dalam Elliott, 2000) mengatakan bahwa
pelajar akan sukses dalam mempelajari sebuah materi yang luas memerlukan jumlah
waktu yang banyak pula. Waktu (penggunaan waktu untuk belajar) adalah kunci
utama. Carroll menggunakan 2 kategori untuk menganalisa waktu.
1.
Hal yang
diperlukan dari waktu untuk belajar.
a. Bakat (aptitude)
berkenaan mengenai banyaknya waktu yang dibutuhkan siswa untuk mempelajari
sebuah materi. Berikan tambahan waktu yang lebih untuk mempelajari materi yang
susah seperti matematika.
b. Kemampuan untuk memahami pelajaran berkenaan dengan general intelligence dan verbal ability.
c. Kualitas dari pelajaran berkenaan dengan kemampuan
guru untuk menjelaskan materi tersebut dengan cara yang menarik. Guru tidak
seharusnya hanya mengetahui pemahaman siswa , tetapi juga memikirkan mengenai
cara pengajaran mereka. Was it clear? Was
it to the point?
2. Waktu yang dihabiskan untuk belajar.
a. Waktu yang disediakan untuk belajar berkenaan dengan
kesempatan (opportunity) yang
disediakan individu untuk belajar
b.
Ketekunan
berkenaan dengan banyaknya waktu yang siswa ingin habiskan untuk belajar.
Jadi, dalam teori Carroll ini ada hubungan timbal balik antara guru
dan siswa. Hubungan antara guru yang mengatur kelas dan keefektifan dari
penjelasan guru. Keduanya sama-sama penting.
Mahasiswa perlu mengubah cara belajar SKS yang biasanya mereka
lakukan supaya lebih dapat memahami materi yang disampaikan dosen di kelas. Berikut
adalah saran yang dapat saya sampaikan untuk mengubah perilaku belajar SKS.
1.
Membiasakan diri untuk
belajar rutin dan menemukan cara belajar yang disukai
2.
Mengubah kebiasaan menumpuk
belajar dalam semalam dengan mengatur waktu belajar setiap harinya. Mencari
waktu belajar yang efektif
3.
Meluangkan waktu kurang lebih
30 menit untuk me-review dan membaca
kembali materi di kelas
4.
Saat sedang di kelas usahakan
untuk fokus pada dosen, mencatat materi, dan bertanya pada dosen apabila ada
yang kurang jelas agar materi yang disampaikan dapat kita pahami dengan baik
5.
Mengelola waktu dengan baik
ketika mengikuti banyak aktivitas di luar sekolah atau perkuliahan
Setelah kita tidak lagi menggunakan cara belajar SKS, maka akan
timbul dampak yang baik. Misalnya:
1.
Jam tidur akan lebih baik
2.
Tidak terburu-buru dalam
memahami materi, karena sudah dicicil belajarnya
3.
Merasa lebih siap dan lebih
tenang saat menghadapi ujian
4.
Lebih fokus dan bisa
konsentrasi saat ujian berlangsung
5.
Proses recall lebih baik
6.
Menjadi orang yang lebih
disiplin dan tidak prokrastinasi
7.
Bisa mengelola waktu dengan
baik
Jadi,
dapat disimpulkan bahwa perilaku siswa ataupun mahasiswa yang menggunakan SKS
dalam pola belajarnya hanya akan membuat mereka semakin panik dan kelelahan
akibat dari belajar semalaman. Kegiatan seperti ini dianjurkan untuk dihindari
sejak dini agar kedepannya bisa menjadi lebih baik dan ilmu yang mereka
pelajari tidak menghilang begitu saja termakan oleh waktu akibat dari belajar
SKS.
Daftar
Pustaka
Elliott, Kratochwill, Cook,
Travers. (2000). Educational Psychology: Effective
Teaching, Effective Learning. Third edition. Singapore: McGraw-Hill.
Ausubel, David P. 1960. The use of advanced organizers in the
learning and retention of meaningful verbal material. Journal of Educational Psychology
(volume 51, hal, 267-272)