04 Juli 2015

Belajar Rutin dan Stop SKS (Sitem Kebut Semalam)

Belajar bukan merupakan kegiatan yang hanya dilakukan selama menjalani studi dalam lembaga pendidikan, seperti SD, SMP, SMA, maupun perguruan tinggi. Namun sebenarnya, belajar itu adalah kegiatan yang mendorong manusia untuk dapat mengaplikasikan suatu kegiatan berdasarkan atas hasil pengalamannya yang telah didapatkan sebelumnya. Ketika seseorang sedang menjalani studi dalam lembaga pendidikan, seperti di perguruan tinggi, maka seseorang tersebut akan dihadapkan dengan berbagai macam pembelajaran dengan pengajar yang berbeda dan mata pelajaran yang berbeda-beda pula. Selain itu, pada saat tertentu semasa menjalani studi, seseorang tersebut akan mengahadapi ujian untuk mengetahui sejauh mana pemahamannya akan pelajaran yang telah didapatkan. Ujian tersebut dapat berupa kuis ataupun UTS (Ujian Tengah Semester) dan UAS (Ujian Akhir Semester).
Selama masa studi di perguruan tinggi, tiap mahasiswa akan mendapatkan perlakuan yang sama seperti orang dewasa. Mahasiswa diharapkan untuk dapat belajar mandiri. Namun dalam kenyataannya, masih banyak mahasiswa yang belum dapat menerapkan belajar mandiri dengan baik. Banyak dari mahasiswa yang merasa gagal dalam menentukan cara belajar mereka. Kelonggaran pola belajar selama waktu perkuliahan membuat mereka memiliki kecenderungan untuk menerapkan perilaku negatif seperti cara belajar SKS (Sistem Kebut Semalam).
Kebanyakan dari mahasiswa melakukan belajar sks karena mereka merasa bahwa jadwal perkuliahan yang didapat membuat mereka lelah, adanya kegiatan di luar perkuliahan seperti organisasi dan sebagainya, pengerjaan berbagai tugas individu maupun kelompok, juga penerapan belajar yang santai walaupun materi yang harus dipelajari banyak. Kebanyakan dari mahasiswa masih disibukkan untuk mencari catatan sehari sebelum ujian dilaksanakan. Mahasiswa tidak menyadari bahwa belajar sks merupakan bagian dari prokrastinasi yang mendorong mereka untuk menunda waktu pengerjaan suatu aktivitas walaupun mereka sebenarnya sudah memiliki batas waktu akhir pengerjaan.
SKS (Sistem Kebut Semalam) adalah sebuah sistem perilaku yang dilakukan oleh siswa ataupun mahasiswa untuk belajar dalam waktu singkat atau semalam suntuk untuk menghadapi tes atau ujian esok harinya. Sistem ini sepertinya sudah melekat dan mendarah daging di kalangan pelajar dan mahasiswa. Mereka yang melakukan SKS akan memaksakan diri untuk mempelajari semua bab yang akan diujikan esok hari ke dalam otak. Tidak sedikit mahasiswa menggunakan jam tidurnya hanya karena mereka belum belajar untuk ujian esok hari. Bagi mahasiswa yang aktif dalam berbagai organisasi, tentunya sistem ini sangat efektif untuknya dalam menghadapi ujian karena mereka sendiri tidak punya waktu untuk belajar dan sibuk dengan kegiatan-kegiatan yang diselenggarakan oleh organisasi. Bagi kebanyakan mahasiswa, belajar dengan cara mencicil tidak akan berhasil dalam menyelesaikan ujian sehingga mereka lebih memilih untuk menerapkan SKS.
Teori belajar kognitif oleh Piaget menjelaskan, dalam mempelajari bentuk belajar yang lebih kompleks, perhatian mestinya dihubungkan pada peran proses kognitif, yaitu bagaimana siswa menghayati, mengorganisasi, dan mengulangi informasi dalam usaha menguasai topik tertentu. Dikemukakan pula, bahwa belajar akan lebih berhasil apabila disesuaikan dengan tahap perkembangan kognitif peserta didik. Metode yang digunakan untuk membuat pembelajaran lebih relevan dalam teori belajar kognitif salah satunya adalah Advance Organizer Advance Organizer, yaitu salah satu cara untuk membantu mahasiswa untuk mengingat kembali informasi-informasi yang berkaitan yang dapat digunakan untuk membantu dalam menyatukan informasi-informasi baru yang akan dipelajari (Ausuble, 1960).
Teori belajar meaningful learning milik Ausubel, yaitu suatu proses belajar di mana informasi baru dihubungkan dengan struktur pengertian yang sudah dipunyai seseorang yang sedang belajar. Ausubel menaruh perhatian besar pada siswa dengan memperhatikan atau memberikan tekanan-tekanan pada unsur kebermaknaan dalam belajar (meaningful learning). Kebermaknaan diartikan sebagai kombinasi dan informasi verbal, konsep, kaidah dan prinsip, bila ditinjau bersama-sama. Oleh karena itu, belajar dengan sistem hafalan saja seperti SKS (Sistem Kebut Semalam) tidak dianggap sebagai belajar bermakna. Maka menurut Ausubel supaya proses belajar siswa menghasilkan sesuatu yang bermakna, tidak harus siswa sendiri yang menemukan semuanya. Pemerolehan informasi merupakan tujuan pembelajaran yang penting dan dalam hal-hal tertentu dapat mengarahkan dosen untuk menyampaikan informasi kepada mahasiswa. Belajar dikatakan bermakna apabila informasi yang akan dipelajari siswa disusun sesuai dengan struktur kognitif yang dimiliki oleh siswa sehingga mereka mampu mengaitkan informasi barunya dengan struktur kognitif yang dimiliki sebelumnya. Faktor utama yang mempengaruhi belajar bermakna menurut Ausubel adalah strukur kognitif yang ada, stabilitas, dan kejelasan pengetahuan dalam suatu bidang studi tertentu dan pada waktu tertentu.
Dalam analisisnya, David Ausubel (1968, 1977) membuat dua perbedaan dasar satu antara penerimaan dan pembelajaran penemuan dan yang lainnya antara hafalan dan pembelajaran bermakna (meaningful learning). Ia menyarankan perbedaan pertama adalah signifikan karena sebagian besar siswa belajar, baik di dalam maupun di luar sekolah, disajikan kepada mereka yaitu penerimaan pembelajaran. Penerimaan pembelajaran bisa sangat bermakna bagi siswa selama itu tidak didasarkan pada hafalan, atau menghafal materi tanpa upaya untuk memahami artinya.
Lebih lanjut, Carroll (dalam Elliott, 2000) mengatakan bahwa pelajar akan sukses dalam mempelajari sebuah materi yang luas memerlukan jumlah waktu yang banyak pula. Waktu (penggunaan waktu untuk belajar) adalah kunci utama. Carroll menggunakan 2 kategori untuk menganalisa waktu.

1.      Hal yang diperlukan dari waktu untuk belajar.
a.       Bakat (aptitude) berkenaan mengenai banyaknya waktu yang dibutuhkan siswa untuk mempelajari sebuah materi. Berikan tambahan waktu yang lebih untuk mempelajari materi yang susah seperti matematika.
b.      Kemampuan untuk memahami pelajaran berkenaan dengan general intelligence dan verbal ability.
c.       Kualitas dari pelajaran berkenaan dengan kemampuan guru untuk menjelaskan materi tersebut dengan cara yang menarik. Guru tidak seharusnya hanya mengetahui pemahaman siswa , tetapi juga memikirkan mengenai cara pengajaran mereka. Was it clear? Was it to the point?
2.      Waktu yang dihabiskan untuk belajar.
a.       Waktu yang disediakan untuk belajar berkenaan dengan kesempatan (opportunity) yang disediakan individu untuk belajar
b.      Ketekunan berkenaan dengan banyaknya waktu yang siswa ingin habiskan untuk belajar.

Jadi, dalam teori Carroll ini ada hubungan timbal balik antara guru dan siswa. Hubungan antara guru yang mengatur kelas dan keefektifan dari penjelasan guru. Keduanya sama-sama penting.
Mahasiswa perlu mengubah cara belajar SKS yang biasanya mereka lakukan supaya lebih dapat memahami materi yang disampaikan dosen di kelas. Berikut adalah saran yang dapat saya sampaikan untuk mengubah perilaku belajar SKS.

1.      Membiasakan diri untuk belajar rutin dan menemukan cara belajar yang disukai
2.      Mengubah kebiasaan menumpuk belajar dalam semalam dengan mengatur waktu belajar setiap harinya. Mencari waktu belajar yang efektif
3.      Meluangkan waktu kurang lebih 30 menit untuk me-review dan membaca kembali materi di kelas
4.      Saat sedang di kelas usahakan untuk fokus pada dosen, mencatat materi, dan bertanya pada dosen apabila ada yang kurang jelas agar materi yang disampaikan dapat kita pahami dengan baik
5.      Mengelola waktu dengan baik ketika mengikuti banyak aktivitas di luar sekolah atau perkuliahan

Setelah kita tidak lagi menggunakan cara belajar SKS, maka akan timbul dampak yang baik. Misalnya:
1.      Jam tidur akan lebih baik
2.      Tidak terburu-buru dalam memahami materi, karena sudah dicicil belajarnya
3.      Merasa lebih siap dan lebih tenang saat menghadapi ujian
4.      Lebih fokus dan bisa konsentrasi saat ujian berlangsung
5.      Proses recall lebih baik
6.      Menjadi orang yang lebih disiplin dan tidak prokrastinasi
7.      Bisa mengelola waktu dengan baik

Jadi, dapat disimpulkan bahwa perilaku siswa ataupun mahasiswa yang menggunakan SKS dalam pola belajarnya hanya akan membuat mereka semakin panik dan kelelahan akibat dari belajar semalaman. Kegiatan seperti ini dianjurkan untuk dihindari sejak dini agar kedepannya bisa menjadi lebih baik dan ilmu yang mereka pelajari tidak menghilang begitu saja termakan oleh waktu akibat dari belajar SKS.


Daftar Pustaka
Elliott, Kratochwill, Cook, Travers. (2000). Educational Psychology: Effective Teaching, Effective Learning. Third edition. Singapore: McGraw-Hill.
Ausubel, David P. 1960. The use of advanced organizers in the learning and retention of meaningful verbal material. Journal of Educational Psychology (volume 51, hal, 267-272)